Wednesday, October 4, 2017



Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Karya Tulis Ilmiah
Dosen Pengampu : Ayu Rahayu, M.Pd.


Oleh :
1.      Tiara Puji Ismaya        (2014015210)
2.      Ikarihayati                   (2014015224)
3.      Destiana Fatmasari      (2014015104)
 Kelas : 7B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
2017





Tema           : Strategi Peningkatan Mutu di Sekolah Dasar
Subtema      : Strategi Mencegah dan Menanggulangi Tinggal Kelas dan Putus Sekolah di                     Sekolah Dasar
Judul           : Upaya Pemberian Jam Belajar Tambahan di Luar Sekolah Kepada Siswa                            Untuk Mencegah dan Menanggulangi Tinggal Kelas di Sekolah Dasar
Tujuan       : Memberikan penjelasan tentang “Pemberian Jam Belajar Tambahan di Luar    Sekolah Kepada Siswa” dalam mencegah dan menanggulangi tinggal kelas di Sekolah Dasar

Pemberian Jam Belajar Tambahan di Luar Sekolah Kepada Siswa Dalam Mencegah Dan Menanggulangi Tinggal Kelas di Sekolah Dasar

  Berbicara mengenai sistem pendidikan tak akan ada habisnya. Baik mengenai sistem pendidikan yang telah, sedang maupun akan diterapkan. Seiring dengan perkembangan zaman dan pola perilaku peserta didik, sistem pendidikan juga terus dikembangkan. Karena itulah, berbagai kebijakan pemerintah terkait upaya peningkatan mutu pendidikan negara ini terus dimunculkan mulai dari perubahan kurikulum, sistem ujian nasional hingga yang terkini kebijakan semua siswa harus naik kelas.
     Pada peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia pasal 12 nomor 104 tahun 2014 tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah, dikatakan bahwa SD/MI menggunakan prinsip kenaikan kelas otomatis. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini sebenarnya dikhususkan pada siswa sekolah dasar (SD), hal tersebut ditujukan agar siswa bisa berkembang sesuai potensinya masing-masing. Kebijakan ini, seperti kebijakan-kebijakan sebelumnya, yang juga menuai pro dan kontra. Kebijakan dalam sistem pendidikan seperti ini sudah diterapkan di beberapa negara yang kualitas pendidikannya masuk dalam peringkat terbaik di dunia. Di negara-negara yang memiliki kualitas pendidikan yang tinggi, tidak ada siswa yang tinggal kelas. Di sekolah-sekolah swasta di Indonesia, khususnya yang mengusung konsep pendidikan berbasis multiple intelligences, adapula yang menyebutnya konsep sekolahnya manusia, yang diperkenalkan oleh Munif Chatib.
Munif Chatib, konsultan pendidikan anyar di Indonesia, menuliskan dalam bukunya berjudul Sekolahnya Manusia, tidak ada siswa yang bodoh, maka tidak ada pula siswa yang harus tinggal kelas. Dalam menghadapi perbedaan kelemahan siswa dalam pembelajaran ia menyarankan agar guru membentuk satuan “Guru Bayangan” yang bertugas mengawasi beberapa anak memiliki kelemahan dalam bidang tertentu dan menuntunnya agar memiliki kemampuan yang setara atau mendekati siswa lain agar tidak tertinggal. Sebagaimana dari kebijakan di atas,  jika dilihat dari satu sisi mengesankan bahwa pemerintah melangkahi tugas guru dalam mengevaluasi hasil belajar siswa. Tentu guru lebih tahu kondisi setiap anak didiknya, apakah pantas naik kelas atau tidak. Namun pada kenyataannya terdapat sejumlah siswa yang tinggal kelas dikarenakan guru kebingungan dengan kebijakan tersebut dan masih dapat ditemui pada beberapa SD wilayah DIY yang menerapkan sistem tinggal kelas pada anak.
Berbicara naik kelas atau tidaknya siswa itu tergantung dengan salah satunya nilai akademik harus memenuhi KKM. Masih ditemukan beberapa siswa yang hasil belajarnya di bawah KKM karena proses pembelajaran yang kurang efektif dari guru.  Lalu masalah lain dari siswa yaitu, tidak dapat mengikuti kemampuan teman seumurnya.
Masalah yang timbul dari guru itu sendiri berupa penggunaan metode dari guru yang kurang efektif, kurang jelasnya dalam penyampaian materi, tidak menggunakan media pembelajaran yang konkret. Padahal guru dituntut untuk harus lebih intensif dalam memperhatikan siswa juga pemahaman siswa. Jadi tidak ada lagi guru yang acuh tak acuh terhadap hasil belajar siswa, entah siswa itu mengerti atau tidak, yang penting ia menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Ini yang biasa terjadi di sekolah-sekolah, guru asik mengajar, sementara siswa entah memperhatikan atau tidak, kegiatan belajar mengajar terus berjalan hingga bel pertanda pelajaran telah berakhir berbunyi dan kelas dibubarkan. Namun siswa yang justru disalahkan atas rendahnya nilai akademik yang diperoleh berdasarkan hasil evaluasi.
     Kemudian selain dengan masalah pada siswa dan guru, juga berkaitan pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Hal tersebut tidak terlepas dari pengelolaan kelas. Yang mana pengelolaan kelas sendiri adalah berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di kelas. Pengaturan tempat duduk yang monoton, pemanfaatan waktu belajar yang tidak efisien, metode guru yang kurang menarik minat siswa, perbedaan perlakuan guru terhadap siswa pandai dengan yang kurang pandai. Hal tersebut tentu mengakibatkan proses pembelajaran itu tidak efektif sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang rendah.
     Masalah lain timbul dari perlakuan warga sekolah terhadap siswa yang tinggal kelas. Kebanyakan guru membedakan perlakuannya terhadap anak yang tinggal kelas. Karena persepsi mereka terhadap anak tinggal kelas itu adalah anak yang bodoh, nakal dan tidak mau diatur. Sehingga dalam pembelajaran di kelas guru tidak melibatkan aktif anak tersebut. Justru guru pesimis terhadap kemampuan anak tersebut. Selain perlakuan guru, adapula perlakuan dari warga sekolah seperti kepala sekolah, karyawan sekolah dan penjaga sekolah, yang dapat mempengaruhi psikologis dan kepercayaan diri anak.
Selain faktor dari sekolah, faktor keluarga juga berpengaruh terhadap prestasi anak yang tinggal kelas. Dalam Hamdani (2010) pengaruh dari keluarga itu dapat berupa cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orangtua, dan latar belakang budaya. Jika kurangnya dukungan untuk belajar dari orang tua untuk anak, maka akan mempengaruhi motivasi belajar anak. Jika motivasi belajar dari orang tua rendah, maka dipastikan prestasi belajar anak akan rendah.
Masalah yang berkaitan dengan siswa yang tinggal kelas dapat dikurangi melalui beberapa pendekatan yang dapat dilakukan oleh guru kelas. Pendekatan untuk mengatasi masalah tinggal kelas dapat dilakukan dengan mengidentifikasi kesulitan belajar setiap siswa. Identifikasi mengenai kesulitan yang dialami siswa dapat membantu guru dalam mengambil keputusan untuk melakukan tindakan - tindakan tertentu.
     Dunia pendidikan mengartikan identifikasi kesulitan belajar sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Juga mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara menetapkan dan kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang seobyektif mungkin.
     Semua kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menemukan kesulitan belajar termasuk kegiatan identifikasi kesulitan belajar peserta didik. Perlunya mengidentifikasi proses belajar karena berbagai hal. Pertama, setiap siswa hendaknya mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkembang secara maksimal, kedua; adanya perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat, minat dan latar belakang lingkungan masing-masing siswa. Ketiga, sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberi kesempatan pada siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya. Dan, keempat, untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh siswa, hendaknya guru beserta BP lebih intensif dalam menangani siswa dengan menambah pengetahuan, sikap yang terbuka dan mengasah ketrampilan dalam mengidentifikasi kesulitan belajar siswa.
     Berkaitan dengan kegiatan identifikasi masalah belajar pada peserta didik, secara garis besar dapat diklasifikasikan ragam identifikasi ada dua macam, yaitu identifikasi untuk mengerti masalah dan diagnosis yang mengklasifikasi masalah. Identifikasi untuk mengerti masalah merupakan usaha untuk dapat lebih banyak mengerti masalah secara menyeluruh. Sedangkan identifikasi yang mengklasifikasi masalah merupakan pengelompokan masalah sesuai ragam dan sifatnya. Ada masalah yang digolongkan kedalam masalah yang bersifat vokasional, pendidikan, keuangan, kesehatan, keluarga dan kepribadian. Kesulitan belajar merupakan problem yang nyaris dialami oleh semua siswa. Kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk menggapai hasil belajar.
     Jika dilihat secara umum penyebab siswa tinggal kelas adalah rendahnya nilai siswa yang selalu dibawah KKM. Siswa kurang dapat mencerna pembelajaran yang telah dilakukan di Sekolah, hal tersebut dapat terjadi karena faktor internal dari dalam diri siswa dan faktor eksternal  yang bukan lain merupakan pengaruh dari lingkungan atau kondisi di sekolah.
     Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mencegah dan menanggulangi tinggal kelas di Sekolah Dasar adalah dengan cara memberikan jam tambahan belajar yang dilakukan di luar sekolah/diluar proses pembelajaran di Sekolah. Pandangan tradisional (dalam Kase, 2005: 10) menyatakan bahwa pemanfaatan jam belajar diluar Sekolah adalah suatu proses aktif di luar jam sekolah untuk dapat menambah pengetahuan siswa dalam mendukung jam belajar di sekolah guna mendukung pencapaian prestasi belajar yang baik. Dari pengertian tersebut diketahui bahwa belajar tidak hanya dapat dilakukan oleh siswa semata-mata hanya pada jam sekolah, tetapi juga diluar jam Sekolah. Siswa yang memanfaatkan waktu di luar jam Sekolah dilakukan untuk belajar, pemahaman akan hal-hal yang telah dipelajari di sekolah, waktu di Sekolah kurang dari yang diinginkan oleh siswa dalam mempelajari suatu pengetahuan.
     Pemberian jam belajar tambahan di luar sekolah bertujuan untuk menanggulangi anak yang memiliki masalah belajar, khususnya untuk anak yang tinggal kelas. Bila siswa dapat memanfaatkan jam belajar di luar sekolah untuk belajar, menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan baik maka akan dapat meningkatkan prestasi pendidikan bagi siswa, meningkatkan pengetahuan warga, dan dapat pula meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
     Pemberian jam belajar tambahan di luar sekolah dapat dilakukan oleh keluarga. Pendampingan belajar dalam keluarga menurut Purwanti, 2006 (http://lib.atmajaya.ac.id) adalah penyertaan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak yang sedang belajar di rumah. Pendampingan dilakukan dengan cara ikut terlibat secara langsung dalam proses belajar, dengan ikut mempelajari buku-buku pelajaran anak atau paling tidak ikut menemani anak ketika belajar.
     Dengan penjelasan di atas, penulis berpendapat bahwa ada hubungan antara penggunaan jam belajar di luar sekolah untuk menanggulangi anak  tinggal kelas. Semakin tinggi siswa menggunakan jam belajarnya di luar sekolah, semakin sedikit kesempatan siswa untuk tinggal kelas. Artinya, dengan siswa dapat menggunakan keteraturan waktu dalam belajar, membuat jadwal belajar yang teratur, menyelesaikan tugas sekolah tepat waktu, mengulang dan menambah materi pelajaran yang telah diberikan guru, maka akan menambah pengetahuan siswa dalam belajar, sehingga dapat menanggulangi siswa tinggal kelas bahkan menjadikan siswa meningkatkan prestasi belajar di sekolah.