Saturday, December 13, 2014

Resume : Melafalkan dan Menulis Lambang Bahasa yang Benar


Fonologi Bahasa Indonesia
A.    FONEM
Fonem merupakan satuan bunyi terkecil yang dapat menunjukkan perbedaan makna. Dalam ilmu bahasa fonem ditulis diantara dua garis miring ( /.../ ). Contoh :
·         Kata-kita-kuta-kota. Kata-kata ini dibedakan oleh fonem /a/, /i/, /u/, /o/.
·         Barang-jarang-karang-parang. Kata-kata ini dibedakan oleh fonem /b/, /j/, /k/, /p/.
B.     FONEM DALAM BAHASA INDONESIA
1.      Vokal dan Konsonan
Menurut ada tidaknya hambatan terhadap arus udara yang mengalir dari paru-paru, fonem dibedakan menjadi dua yaitu:
a.       Vokal
Vokal adalah bunyi yang dihasilkan karena udara yang keluar dari paru-paru tidak mendapat hambatan. Berdasarkan proses menghasilkannya, vokal digolongkan atas beberapa tinjauan sebagai berikut.
1)      Posisi bibir.
-          Vokal bulat : /o/, /u/, /a/.
-          Vokal tidak bulat : /i/, /e/.
2)      Tinggi rendahnya lidah.
-          Vokal depan : /i/, /e/.
-          Vokal pusat : /e/.
-          Vokal belakang : /u/, /o/, /a/.
3)      Maju mundurnya lidah.
-          Vokal atas : /i/, /u/.
-          Vokal tengah : /e/.
-          Vokal bawah : /a/.
Diftong
Diftong adalah vokal berurutan yang bunyinya tidak dapat dipisahkan. Vokal berurutan berbeda dengan vokal rangkap. Disebut vokal berurutan karena bunyinya tidak dapat dipisahkan misalnya : kala-u, capa-i, kaca-u, panta-i yang benar adalah ka-lau, ca-pai, ka-cau, pan-tai. Sedangkan vokal rangkap bunyinya dapat dipisahkan misalnya: ma-u, di-a, ku-e, da-un, ku-at.
b.      Konsonan
Istilah-istilah pada fonem konsonan.
1)      Konsonan rangkap : menampakkan, menyorakkan, menunjukkan.
2)      Gugus konsonan : pr : prima, kapri, priyayi
tr : transisi, putra, putri, tradisional
kr : kreasi, kristal, makrab
kl : angklung, klimaks, proklamasi
dr : drama, drastis
C.     LATIHAN PELAFALAN VOKAL
Fungsi fonem adalah membedakan makna. Permasalahannya adalah dalam bahasa Indonesia terdapat dua fonem yang berbeda dengan lambang yang sama, yaitu fonem [e] (sate, tape, tetes, tempe,kue) dan [ǝ] (pegang, kejar, benar, berat, enam, enggan). Oleh karena itu dari sekolah dasar perbedaan pelafalan harus sering ditekankan.
D.    LATIHAN PELAFALAN KONSONAN
Pada pembelajaran pelafalan sebagian siswa sukar melafalkan konsonan tertentu, seperti konsonan frikatif /f/, /s/, /sy/, /x/, dan /h/ sehingga timbul kekeliruan pelafalan. Contoh :
Benar
Salah
Kreatif
Kreatip
Fakultas
Pakultas
Kompleks
Komplek
Antraks
Antrak


Lambang Tulis Bunyi Bahasa
A.    SEJARAH AKSARA
·         Aksara yang kita ketahui sebagai tulisan merupakan sistem tanda-tanda grafis yang dipakai manusia untuk berkomunikasi. Aksara merupakan lambang dari ujaran.
·         Para ahli linguistik memperkirakan tulisan berawal dari gambar yang ditemukan di gua Altamira, Spanyol Utara. Gambar tersebut berkembang menjadi tulisan atau piktogram.
·         Piktogram mengalami perkembangan, dapat dilihat dari tulisan hieroglif Mesir yang pernah digunakan sekitar 4000 SM. Piktogram yang melambangkan gagasan, seperti hieroglif Mesir Kuno disebut ideogram.
·         Ideogram berkembang menjadi lebih sederhana, sebagai contohnya aksara paku yang digunakan oleh bangsa Sumeria pada tahun 400 SM.
·         Selanjutnya, orang Persia mengambil alih sistem tulisan Sumeria, tetapi bukan untuk melambangkan gagasan melainkan untuk menggambarkan suku kata yang disebut silabis.
·         Dalam perkembangannya sistem silabis tidak dipergunakan lagi, kemudian orang Yunani mengembangkan tulisan yang bersifat alfabetis, yaitu dengan menggambarkan setiap konsonan dan vokal dengan satu huruf.
·         Pada awal abad pertama, Romawi mengambil alih sistem alfabetis dan aksara Romawi atau Latin mulai menyebar ke seluruh dunia.
·         Dan akhirnya pada abad ke-16 bersamaan dengan penyebaran agama Kristen aksara Romawi sampai di Indonesia dan digunakan hingga saat ini.
1.      Aksara dalam Unsur Bahasa
Aksara merupakan wujud ujaran atau wicara. Berbagai aksara tidak satupun yang dapat menggambarkan unsur-unsur wicara seperti intonasi, tekanan, dan jeda secara sempurna. Namun, beberapa lambang dapat menggambarkan ciri-ciri seperti huruf besar untuk mengawali kalimat, koma untuk menandai jeda, titik untuk menandai akhir kalimat, tanda seru untuk mengakhiri kalimat yang berisi perintah atau seruan, dan tanda tanya untuk kalimat yang berisi pertanyaan.
2.      Pembelajaran Aksara Bagi Siswa Sekolah Dasar
Mengenal aksara di kelas permulaan diberikan setelah siswa menguasai aspek berbicara. Aksara erat kaitannya dalam aspek membaca dan menulis. Beberapa metode pernah diterapkan dalam pembelajaran membaca dan menulis misalnya menggunakan pendekatan sintesis analisis dan sintesis.
3.      Ejaan
Perkembangan bahasa dapat terjadi pada setiap masa sesuai dengan arus kebutuhan komunikasi.
·         Tahun 1901 pertama kali bahasa Indonesia memiliki keseragaman ejaan, yaitu ejaan Van Ophusyen.
·         Tahun 1938 dalam konggres bahasa Indonesia pertama di Solo diusulkan agar ejaan Indonesia lebih mendunia.
·         Tahun 1947, penyerderhanaan ejan terjadi dan dinamakan ejaan Soewandi atau ejaan Republik.
·         Tahun 1954 di Medan, diadakan Konggres bahasa Indonesia dan menghasilkan ejaan pembaruan tahun 1957.
·         Tahun 1959, berdasarkan kerja sama Indonesia dengan Malaysia menghasilkan konsep ejaan bersama disebut ejaan Melindo (Melayu Indonesia).
1901
Van Ophuysen
1947
Soewandi
1957
Pembaruan
1959
Melindo
1972
Ejaan Baru (EYD)
j
j
y
y
y
dj
dj
j
j
j
nj
nj
n
n
ny
sj
-
s
s
sy
tj
tj
t
c
c
ch
-
-
-
kh
ng
ng
n
n
ng
e
e
e
e
e
oe
u
u
u
u
           
Sistem ejaan yang disempurnakan adalah sistem ejaan yang memenuhi prinsip kecermatan, kehematan, keluwesan, dan kepraktisan. Sistem ejaan dinilai cermat bila aturan yang diterapkan konsisten pelaksanaannya. Maksud kehematan dalam sistem ejaan adalah ejaan tersebut membantu pemakainya untuk menghemat tenaga dan pikiran dalam komunikasi. Prinsip keluwesan diterapkan dalam sistem ejaan karena bahasa terus mengikuti perkembangan. EYD dinilai praktis karena perubahan pada EYD tidak mengubah sarana pengetikan atau percetakan.

Morfologi Bahasa Indonesia
Wacana merupakan satuan bahasa yang terikat atas beberapa unsur kebahasaan. Diantara unsur pendukung atau pengikatnya adalah morfem. Morfem adalah kesatuan bentuk bahasa terkecil yang terlibat dalam pembentukan kata dan membedakan arti.
Bentuk kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas :
1.      Bentuk kata dasar atau kata dasar.
2.      Kata berimbuhan.
3.      Kata ulang.
4.      Kata majemuk.

A.    KATA DASAR
Kata dasar adalah morfem dasar.Struktur kata dasar dalam bahasa Indonesia ditetapkan berdasarkan suku kata. Kata dasar dalam bahasa Indonesia dibentuk dari empat macam suku kata, yaitu :
V                     : vokal                         
V-K                 : vokal-konsonan
K-V                 : konsonan-vokal
K-V-K             : konsonan-vokal-konsonan
Contoh :
a-pel    : V+K-V-K
as-pal   : V-K+ K-V-K
bu-ku   : K-V+K-V
man-di : K-V-K+K-V
B.     KATA BERIMBUHAN
Unsur tambahan atau imbuhan disebut morfem terikat.

Morfem Bebas dan Morfem Terikat
·         Morfem bebas adalah morfem yang mampu berdiri sendiri dalam ujaran kerena telah memiliki makna tertentu.
·         Morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam ujaran karena belum memiliki makna tertentu, oleh karena itu unsur ini harus terikat pada unsur dasar agar memiliki makna dan dapat dikomunikasikan.
Awalan atau Prefiks  :
1.      Makna Awalan ber-
Contoh:
Berumah : memiliki rumah
Berbuah : menghasilkan buah
Bersedih : dalam keadaan sedih
Bersaudara : memiliki saudara
Berusaha : melakukan usaha
2.      Makna Awalan me-
Contoh :
Membatu : menjadi batu
Menimbulkan : menyebabkan timbul
Mengurangi : membuat jadi kurang
Menyelesaikan : menjadi selesai
3.      Makna Awalan ke-
Contoh :
Ketua : yang dituakan
Kehendak : yang dikehendaki
Kelima : tingkatan lima
4.      Makna Awalan ter-
Contoh :
Terkenal : paling dikenal
Termakan : tidak sengaja dimakan
Tertidur : tidak sengaja tidur
Terkunci : dalam keadaan dikunci
5.      Makna Awalan se-
Contoh :
Sedetik : satu detik
Sekampung : seluruh kampung
Setiba : setelah tiba
Seberat : sama berat
6.      Makna Awalan pe-
Contoh :
Pengajar : orang yang pekerjaannya mengajar
Pemalas : orang yang bersifat malas
Pemotong : alat untuk memotong
            Makna Imbuhan Gabung atau Konfiks :
1.      per-an
Menyatakan hasil perbuatan : perhitungan, perkiraan
Menyatakan proses : perhitungan, perjalanan, peradilan
Menyatakan hal : perjanjian, perdagangan, perdamaian
Menyatakan tempat : peristirahatan, perkebunan
2.      pe-an
Menyatakan tempat : pemakaman, peternakan, pemandian, pemukiman
Menyatakan proses : penelitian, penemuan, pemotongan
3.      ke-an
Menyatakan tempat : kerajaan, kesultanan, kedutaan
Menyatakan hal : keadilan, kerukunan, kemakmuran
Menyatakan seperti : kekanak-kanakan, keibu-ibuan, kehitam-hitaman
            Makna Akhiran :
1.      –i
Menyatakan berkali-kali : tembaki, pukuli, pandangi
Menyatakan membubuhi atau memberi : sayangi, taburi, nasehati
Menyatakan membuat jadi : dekati, jauhi
2.      –an
Menyatakan hasil : catatan, lukisan, tulisan
Menyatakan alat : pikulan, jebakan
Menyatakan tempat : tikungan, pangkalan, dataran, tanjakan
Menyatakan tiap-tiap : meteran, harian, bulanan, tahunan     
C.     KATA ULANG
Jenis kata ulang :
1.      Kata ulang murni : anak-anak, laki-laki, lari-lari
2.      Kata ulang berubah bunyi : warna-warni, serba-serbi, sayur-mayur
3.      Kata ulang sebagian : tetangga, tetamu, leluhur
4.      Kata ulang berimbuhan : menari-nari, berjam-jam
Makna kata ulang :
·         Banyak/semua/seluruh : sampah-sampah, daun-daun, kertas-kertas
·         Macam-macam : buah-buahan, sayur-sayuran
·         Tiruan/menyerupai : rumah-rumahan, mobil-mobilan, robot-robotan
·         Berulang kali : tertawa-tawa, terinjak-injak, terguling-guling
·         Paling : sedekat-dekatnya, sebaik-baiknya, semurah-murahnya
·         Saling : tuduh-menuduh, pukul-memukul, tolong-menolong
D.    KATA MAJEMUK
Ciri-ciri kata majemuk :
1.      Menggunakan gabungan kata;
2.      Gabungan kata terdiri atas kata dasar;
3.      Gabungan kata itu membentuk sebuah arti baru:
Kata majemuk tidak dapat dipisahkan oleh kata lain. Penyisipan kata lain diantara dua unsur dasar tersebut akan mengakibatkan makna yang berbeda. Contoh :
·         Taman bunga : menunjukkan tempat
·         Taman dan bunga : menunjukkan dua kata tempat dan benda
Kata majemuk menurut sifat hubungan antar unsur pembentuknya terdiri atas berikut :
1.      Kata majemuk endosentris : kata majemuk yang erat hubungannya antar unsur pembentuknya. Salah satu unsur pembentuknya adalah unsur pusat. Contoh : jam tangan, kereta api, taman buah
2.      Kata majemuk eksosentris : kata majemuk yang hubungan antar unsur pembentuknya renggang. Kedudukan unsur-unsur pembentuknya sama. Contoh : terang benderang, gelap gulita, cantik molek
Kesimpulan
Bahasa salah satu fungsinya adalah sebagai alat komunikasi antar manusia. Agar manusia dapat berbahassa dengan baik adalah dengan mempelajari cara berbahasa yang baik yaitu dengan melafalkan setiap fonem dengan baik dan benar dan dengan artikulasi yang jelas pada setiap pelafalannya.

Disamping kita memperbaiki cara bebicara dalam hal ini kita juga dituntut untuk dapat menulis dengan cara yang benar yaitu sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan). Kita telah mengetahui sejarah dan perkembangan lambang tulis bunyi bahasa, dengan pengetahuan kia miliki, di harapkan kita mampu memperbaiki cara penulisan kita dan ucapan kita dalam kehidupan sehari-hari.

1 comment: